Memahami Osteoporosis, si Penyebab Nyeri Tulang Belakang dan Kelumpuhan di Tulang Belakang pada Lansia

Osteoporosis adalah penyakit tulang yang paling ditemukan pada lansia. Ini adalah penyakit rendahnya massa tulang (bone mass) yang  mengakibatkan kerusakan struktur tulang. Akibat kerusakan ini tulang bisa mengalami patah tulang, bahkan tanpa kecelakaan yang nyata, misalnya hanya jatuh di kamar mandi atau keseleo. Bahkan kegiatan yang rutin saja, seperti mengangkat tas / koper atau berlari, dapat mengakibatkan patah tulang. Biasanya yang paling sering mengalami cedera patah adalah tulang belakang, pinggul dan pergelangan tangan. Penderita sebelumnya bahkan tidak tahu kalau ia memiliki osteoporosis, sampai mengalami patah tulang ini. Padahal ketika patah tulang terjadi, terutama patah tulang belakang dan tulang pinggul, terjadi resiko peningkatan resiko kematian pada lansia. Patah tulang belakang akan memberikan keluhan Nyeri Tulang Belakang yang hebat dan pasien mengurangi aktifitas rutinnya dan hanya berbaring di tempat tidur, sehingga juga mengundang munculnya penyakit lain yang mengancam kehidupan lansia. Karena itu kita perlu Memahami Osteoporosis Penyebab Nyeri Tulang Belakang pada Lansia.

Faktor-faktor yang berperan terhadap timbulnya osteoporosis

Di Indonesia, penelitian terakhir dari International Osteoporosis Foundation, menunjukkan 1 dari 4 perempuan Indonesia yang berusia 50-80 tahun mempunyai resiko terkena osteoporosis. Sedangkan resiko perempuan di Indonesia 4 kali lebih tinggi terkena osteoporosis dibandingkan laki-laki. Dengan demikian diperkirakan puluhan juta penduduk Indonesia, sekitar 80 persennya perempuan, telah menderita osteoporosis, dan hampir dua kali lipatnya sudah memiliki kekeroposan tulang yang ringan (osteopenia)

osteoporosis2

Ada banyak faktor risiko yang terkait dengan osteoporosis.  Tiga yang utama adalah : Usia, factor genetik dan jenis kelamin.

  1. Jenis kelamin

Seperti disebutkan diatas, wanita berada pada risiko lebih besar terkena osteoporosis dibandingkan pria. Satu dari dua wanita dan satu dari delapan pria memiliki resiko patah tulang karena osteoporosis selama hidup mereka. Perempuan juga berisiko kehilangan tulang yang lebih besar setelah menopause.

osteoporosis3

  1. Umur

Saat usia mencapai 50 tahun, ada penurunan massa tulang sekitar 0,5% setiap tahun

  1. Faktor genetik

Jika di keuarga kita ada yang mempunyai penyakit osteoporosis, maka kita juga memiliki peningkatan risiko terkena osteoporosis 50-85 %. Mungkin kita tidak tahu jika ada kerabat kitamemiliki penyakit osteoporosis. Namun, jika ada kerabat langsung mempunyai  postur bungkuk, penurunan tinggi badan yang signifikan atau patah tulang tanpa penyebab kecelakaan yang signifikan, maka itu  menunjukkan adanya riwayat keluarga osteoporosis.

Selain faktor diatas yang tidak bisa dikendalikan, masih ada faktor risiko lain yang dapat kita kontrol. Factor-faktor yang bisa kita kendalikan mislanya  gaya hidup : merokok , minum alkohol dan asupan kafein. Diet sehat yang seimbang sangatlah penting. Perlu asupan yang memadai dari kalsium dan vitamin D, yang dibutuhkan untuk menyerap kalsium. Kurangnya latihan fisik juga bisa memberikan kontribusi untuk terewntuknya massa tulang yang rendah. Juga perlunya paparan yang cukup terhadap sinar matahari yang terkait dengan perlunya faktor pro vitamin D.

Waktu tereksposnya kita terhadap faktor-faktor risiko memiliki kaitan yang besar terhadap kekuatan tulang. Misalnya, jika Anda jarang makan teratur selama masa remaja dan berhenti menstruasi lebih cepat, maka mungkin tidak pernah mencapai puncak tertinggi massa tulang. Risiko munculnya osteoporosis juga tergantung pada berapa banyak massa tulang yang didapatkan sampai usia 30 dan seberapa pandainya kita menjaga itu sepanjang hidup kita. Jadi berapa pun usia kita, ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk meminimalkan risiko terkena osteoporosis. Itulah salah satu tanda bahwa kita Memahami Osteoporosis Penyebab Nyeri Tulang Belakang pada Lansia.

Bagaimana Mendiagnosis Osteoporosis?

Diagnosis sekarang dapat dibuat dengan cepat dan mudah dengan alat canggih dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA) scan. Pemeriksaan X-ray polos tidak cukup sensitif untuk mendeteksi osteoporosis kecuali jika sejumlah besar tulang telah hilang. Scan DEXA memakan waktu 30 menit, tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya menyebabkan pasien terpapar 1/10 radiasi disbanding pemeriksaan ronsen dada. hasil yang  disebut T-skor dapat digunakan untuk memprediksi risiko patah tulang. T-skor rendah berarti tulang Anda rapuh. Sebuah T-score -1,0 ke -2,5 di dianggap sebagai indikasi osteopenia (keropos tulang ringan) dan skor lebih rendah dari -2,5 menunjukkan telah menderita osteoporosis.

Pencegahan dan Pengelolaan Osteoporosis

Karena kita harus Memahami Osteoporosis Penyebab Nyeri Tulang Belakang pada Lansia, pencegahan dan pengobatan osteoporosis harus mencakup juga pengelolaan semua faktor risiko. Ini termasuk memastikan apakah sudah mendapatkan cukup asupan kalsium dan vitamin D (baik dari diet Anda atau suplemen), Juga melakukan latihan pembebanan pada kekuatan tulang (weight bearing) seperti berjalan dan latihan beban ringan, yang diperlukan untuk membangun tulang yang kuat Asupan kalsium yang dierekomendasikan adalah  1,000- 1,500 mg setiap hari, tergantung pada usia dan jenis kelamin. Asupan kalsium dan vitamin D yang rutin bisa dengan mengonsumsi lebih banyak produk susu seperti keju, mentega, krim, yogurt dan es krim. Sayuran berdaun hijau seperti brokoli, bayam, sawi, kangkung, sawi, lobak hijau dan pok choy  juga merupakan sumber kalsium yang baik. Vitamin D bisa didapatkan dari ikan, tiram dan sereal. Jika ragu ragu dengan rencana anda untuk mencegah osteoporosis atau mencegah berkembang buruknya osteoporosis, kita bisa dokter dan ahli gizi untuk merekomendasikan program latihan dan diet yang sesuai dengan kondisi kita.

Jika kita sudah menderita osteoporosis atau dokter sudah meresepkan obat-obatan untuk osteoporosis, disiplinlah dengan rekomendasi dan obat yang diberikan. Ada banyak obat yang tersedia untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis, termasuk hormon estrogen, alendronate, residronate, reloxifene dan kalsitonin, dan lain-lain. Semuanya harus dengan rekomendasi dan resep dokter, karena sangat  berbahaya jika mengkonsumsinya dengan inisiatif sendiri. Itulah salah satu tanda bahwa kita Memahami Osteoporosis Penyebab Nyeri Tulang Belakang pada Lansia

Pengobatan Patah Tulang Belakang akibat Osteoporosis

Jika telah terjadi patah tulang belakang akibat osteoporosis, biasanya berupa patah tulang belakang jenis kompresi (vertebral compression fracture) yang menyebabkan Nyeri Tulang Belakang yang hebat, maka diperlukan tndakan lanjutan baik dengan operasi bedah terbuka (open surgery) mau pun dengan tindakan MISS (Minimally Invasive Spine Surgery) berupa vertebroplasty atau kyphoplasty. Vertebroplasty adalah penyuntikan semen tulang (bone cement) buatan ke dalam tulang yang keropos dan patah sehingga menjadi kuat kembali karena telah “diberi semen”. Sedangkan kyphoplasty adalah tindakan vertebroplasty dengan teknologi lebih canggih , dan tentu juga lebih mahal. Lebih lanjut  : http://dokterwawan.com/2016/12/04/teknik-miss-percutaneus-vertebroplasty-kyphoplasty-untuk-pengobatan-patah-tulang-belakang-karena-keropos/

Bagaimana pun kunci untuk pengobatan osteoporosis adalah pada pencegahan  atau cara memperlambat hilangnya massa tulang. Ini hal yang terpenting yang harus disadari oleh orang-orang yang secara usia, factor generic, dan jenis kelamin lebih berisiko terkena osteoporosis. Mulailah dengan menghilangkan faktir resiko yang bisa dicegah, yaitu gaya hidup yang kurang sehat untuk munculnya osteoporosis, yaitu merokok, alcohol, asupan kafein berlebihan serta kurang gerak dan kurangnya paparan sinar matahari. Dengan Memahami Osteoporosis Penyebab Nyeri Tulang Belakang pada Lansia maka lansia akan terhindar dari keluhan yang mengganggu.

(Latin : Osteo: tulang, Porus: lubang)

Memahami Osteoporosis Penyebab Nyeri Tulang Belakang pada Lansia

sumber gambar : Pusdatin  Kemenkes RI

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*